Raden Aldi Ferdian, Bermimpi, Bersungguh-sungguh dan Berbagi

by - Juli 24, 2015

Raden Aldi Ferdian


Bermimpi menjadi orang sukses adalah impian semua orang, tapi yang mau memperjuangkan mimpi itu adalah orang-orang yang spesial. Menjadi orang yang sukses bukan berarti tanpa resiko, banyak rintangan yang harus dilalui. Dan untuk itu kita harus membangun bisnis kita sendiri, karena tidak ada karyawan sukses yang melebihi kesuksesan sang Bos/Owner.
Seperti yang dilakukan Raden Aldi Ferdian, Aldi memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan yang karirnya sudah cemerlang dalam dunia perbankan untuk menjadi seorang pengusaha. Menjadi pengusaha bukanlah impian yang tiba-tiba muncul, karena dari kecil ia sudah memperlihatkan minatnya, Aldi kecil terbiasa mencari uang jajan sendiri, dengan cara menjual gambar tempel bertali dan menyewakan buku kepada teman-temannya. Di usia 17 tahun, ia sudah bekerja sebagai supir antar jemput untuk anak sekolah dasar, menjadi crew service dan delivery service di McDonald Kings Plaza – Bandung. Ia bekerja sambil kuliah di jurusan Teknik Industri Universitas Pasudan, lal bekerja sebagai EO dan supervisor entertainment di Fame station Cafe. Lepas dari dunia entertaintmen yang nyaris tidak mengenal jam kerja, Aldi mulai mengenal dunia perbankan. Tadinya hanya sebagai marketing bank yang menjual prodk reksadana, sampai akhirnya menjabat posisi penting di beberapa bank besar. Waktu berjalan dan Aldi merasa bosan dengan ritme kerja di bank yang menurutnya lambat.
Lulusan Universitas Pasundan jurusan Teknik Industri ini bercerita, bahwa mimpi terbesarnya adalah untuk membantu orang lain mewujudkan mimpi mereka. “Itu Visi dan Misi saya, yang saya lakukan melalui transformasi raga dan rasa,” ujarnya.
Transformasi raga dan rasa yang dimaksudkannya adalah berupa perpindahan “raga” atau posisi, dari pekerja menjadi pengusaha. Kemudian hal itu diiringi dengan perpindahan “rasa” agar bisa lebih peka, lebih lembut, lebih sabar, dan lebih tekun dalam proses mewujudkan mimpi. “Seluruh pekerjaan harus dilakukan atas dasar suka dan senang, sehingga kita akan lupa bahwa kita sedang bekerja. Yang ada adalah totalitas raga dan rasa dalam mewujudkan mimpi kita masing-masing. Dan akhirnya, yang kita perjuangkan bukan uang, melainkan kepuasan. Karena bagi saya, uang akan mengikuti dengan sendirinya,” tambah Aldi lagi.
Keluar dari pekerjaanya, Aldi pun mendirikan Vizwerk bersama temannya. Dari sinilah perusahaan terus berkembang karena para karyawannya  menginginkan untuk mempunyai perusahaan sendiri. Viswerk membantu para karyawan yang ingin mendirikan perusahaan. Perkembangan itu membuat Aldi semakin banyak mendapat proyek dan akhirnya mendirikan perusahaan induk Cakradhara Group. Perusahaan induk ini diharapkan akan memudahkan konsolidasi sekaligs pemngembangan bisnisnya.
Cakradhara Group dapat berdiri dikarenakan sejumlah karyawan Vizwerk menyampaikan niat mereka untuk mendirikan usaha advertising sendiri. “Mereka punya mimpi untuk memiliki usaha sendiri, dan merasa sudah cukup sebagai pekerja,” kata Aldi. Di situlah awalnya Grinta, perusahaannya yang lain berdiri. Aldi membantu mereka dari segi pembiayaan.
Aldi melihat semua pencapaiannya itu, tidak lepas dari efek kepedulian terhadap orang lain. Misalnya dengan membantu menyalurkan sedekah, membiayai proyek yang bersifat kemanusiaan, dan mencarikan jalan keluar bagi orang lain agar mereka bisa berkembang.
Ada lagi satu hal yang selalu Aldi tekankan pada karyawan. Yakni, beranilah bermimpi. Kemudian bersungguh-sungguhlah mengejarnya, serta jangan lupa berbagi. Uang yang kita miliki bukanlah yang ada di Bank saja, melainkan yang kita sedekahkan dan dibelanjakan untuk membantu orang lain.
Bersungguh-sungguh dalam mengejar dan mewujudkan mimpi, menurut Aldi, adalah bagian dari doa. Sebab bagi dia, doa bukan hanya yang dipanjatkan sambil duduk selepas shalat, namun juga yang diwujudkan melalui niat dan tindakan nyata.



You May Also Like

0 komentar